Komang Rurunk

Artikel · · 3 menit baca

Pis Sekah: Makna dan Keindahan

Kalau kita sempat menghadiri upacara Atma Wedana, Memukur, atau Nyekah di Bali, ada satu pemandangan yang belakangan ini makin sering menarik perhatian: hiasan pada sekah atau puspa. Di antara semerbak dupa dan rangkaian bunga harum, lembaran uang kertas kini tampil begitu rapi dan estetik, dirangkai dengan ketelitian tinggi oleh tangan-tangan anak muda.

Makna Tradisi: Apa Itu Pis Sekah?

Dalam rangkaian upacara penyucian roh leluhur setelah Ngaben—biasanya disebut Memukur, Ngeroras, atau Nyekah—roh yang disucikan disimbolkan dalam wujud puspa sekah. Wadah atau simbolis raga suci ini dirangkai dari dedaunan, bunga-bungaan tertentu, dan dilengkapi sarana upakara.

Di sinilah pis sekah memegang peran penting. Secara tradisi, uang (baik pis bolong atau uang kepeng asli, maupun uang kertas) diletakkan bersama sekah sebagai simbol:

  1. Bekal perjalanan atma: Sebagai sarana penyerta yang melambangkan bekal spiritual dan materi dalam perjalanan sang atma menuju alam yang lebih suci.
  2. Wujud punia dan persembahan: Ungkapan rasa bakti dan terima kasih keluarga kepada leluhur yang diupacarai.
  3. Pelengkap kelengkapan upakara: Uang juga difungsikan sebagai sesari atau pengesah jalannya upacara yadnya.

Sentuhan Kreatif Anak Muda Jaman Sekarang

Dulu, uang kertas pada sekah biasanya diselipkan begitu saja atau dilipat sederhana. Namun beberapa tahun belakangan, anak-anak muda di banjar maupun keluarga menunjukkan kreativitas yang luar biasa dalam merangkai pis sekah ini.

Lembaran rupiah aneka pecahan—mulai dari ribuan hingga ratusan ribu—kini dilipat menyerupai kelopak teratai, kipas, burung merak, hingga ornamen bersusun yang tampak megah. Kerapian lipatannya mirip seni origami, dipadukan serasi dengan hiasan janur dan bunga segar yang menopang puspa.

Ada beberapa hal menarik di balik tren kreatif ini:

  1. Semangat ngayah yang hidup: Kegiatan merangkai uang sekah ini sering dikerjakan bersama-sama pada malam hari menjelang puncak karya, menjadi ruang kumpul dan gotong royong anak-anak muda.
  2. Estetika persembahan: Memberikan yang terbaik dan terindah untuk leluhur (yadnya yang berlandaskan rasa tulus dan keindahan).
  3. Keterampilan tangan: Menghasilkan karya visual yang cantik tanpa merusak lembaran uang tersebut, karena teknik merangkainya kini makin cermat tanpa isolasi berlebih atau staples yang bisa merusak.

Menjaga Keseimbangan: Makna dan Keindahan

Melihat kreasi anak-anak muda ini tentu menyenangkan. Tradisi Bali selalu punya ruang untuk berkembang seiring rasa seni generasinya. Yang paling penting, keindahan visual dari lipatan uang tersebut tidak sampai mengaburkan esensi utama dari upacara itu sendiri.

Bagaimanapun bentuk rangkumannya, pis sekah tetaplah wujud cinta dan bakti keluarga yang mengantarkan leluhur menuju keheningan. Sentuhan tangan kreatif anak muda hanyalah cara indah generasi hari ini untuk mengatakan: kami tetap ingat, kami tetap peduli, dan kami persembahkan yang terbaik dengan cara kami.